Perenunga-Perenungan di Penghujung Malam

Tags

, , , , ,

kotemplasi, merenung, perenungan

Photo by Matthew Henry

Dalam sebuah perenungan di penghujung malam di waktu-waktu aku tidak bisa tidur itu, terpikirkan sebuah pertimbangan (lebay mode on): lebih penting mana penampilan yang indah atau isi kepala yang berisi dengan banyak ide kreatif. Yang pertama akan tampak indah ketika perjumpaan pertama kali sebelum ngobrol ngalor ngidul, sedangkan yang kedua akan semakin indah setelah mengenal orang itu lebih dalam. Tak ada yang lebih unggul satu sama lain. Keduanya terdapat keindahan yang tidak dimiliki satu dengan yang lainnya. Tentu, manusia diberikan kebebasan untuk memilih satu diantaranya, atau kalau bisa memilih dua, ambilah keduanya.

Dulu aku mementingkan penilaian pertama itu. Lambat laun, hal pertama itu kurang begitu menarik ketika aku merasa diriku terlalu banyak berkamuflase di atas banyak sekali kelemahanku. Kelemahan yang berusaha aku tutupi dengan sebuah penampilan. Namun, bukanya mencari akar masalah, yang ada menambal sesuatu yang ada di permukaan. Tentu bukan cara yang tepat, ketika ingin mencari solusi, yang ada malah menyembunyikannya.

Sekarang ini, aku lebih memilih untuk menerima segala kakurangan juga kelebihan yang telah Allah berikan dengan legowo. Dengan iklhas, tidak mengeluh dengan apa yang telah Dia anugerahkan kepadaku. Aku juga mulai belajar untuk bersyukur atas apa yang telah Dia berikan dengan tidak membanding-bandingkan diri ini dengan orang lain. Ketika aku melihat kelebihan harta pada orang lain, aku tidak lantas berkecil hati. Aku kemudian mengalihkan pandanganku pada orang yang nasibnya di bawahku. Ketika aku melihat ibadah seseorang di bawahku, lantas aku memalingkan pengelihatanku pada orang yang lebih rajin daripada diriku. Cara seperti ini aku dapat dari seorang Ustadz, yang pada bulan puasa kemarin ceramah di masjid dekat rumah. Kalau dipikir-pikir, kondisi semacam ini dimaksudkan agar diri kita pandai bersyukur dan tidak cepat puas: tidak mengeluh dengan kondisi yang nampak dalam penilaian diri sendiri -kadang bisa benar, tak jarang juga salah- sebagai nasib malang dan tidak merasa bangga dengan ibadah yang tidak seberapa itu.

dhico velian | Yogyakarta, 7 November 2017

Advertisements

Bagaimana Membunuh Rasa Bosan dari Seseorang yang Tak Banyak Kegiatan

Tags

, , , ,

Rasa bosan, via: Noah Silliman

Tak ada kebosanan maupun kemalangan yang menimpa orang yang suka menulis dan membaca. Baginya, saat-saat tidak ada uang atau sedang malas ke luar rumah, ada saja hal yang dilakukannya. Apalagi kalau bukan membaca dan menulis. Saat sudah merasa bosan membaca, ia bisa beralih menulis. Begitu seterusnya sampai kebosanan berikutnya melingkupi hidupnya yang tidak banyak kegiatan itu. Namun, alih-alih membikin pikiran semrawut, orang yang suka menulis dan membaca itu justru mendapatkan sesuatu yang bisa ditulisnya. Maka kata seorang penulis Barat sana, inspirasi itu datang dari mana saja, bahkan dari rasa bosan sekalipun. Bedanya seorang penulis itu sadar sedangkan yang bukan penulis tidak sadar.

Selain itu, ketika dirinya berada dalam rumah selama berhari-hari atau sekalipun dirinya dipenjara: seperti yang aku saksikan dalam cerpen terjemahan karya Anton Chekhov berjudul Taruhan, di sana orang yang dipenjara merasakan bagaimana kehidupan yang monoton itu dapat teratasi dengan membaca. Kehidupan yang mengungkungnya selama bertahun-tahun hanya tembok tebal yang itu-itu saja dengan kondisi ruangan yang tidak banyak berubah dapat teralihkan dengan membenamkan diri ke buku bacaan. Ah, segala yang dirisaukan orang, terutama seorang ekstrovert dapat diatasi oleh orang yang suka membaca dan menulis. Hemm, mungkin juga karena orang yang suka membaca dan menulis sebagian besar adalah seorang introvert. Yang dengan itu, dirinya tidak merasa kesepian. Meski tidak atau jarang keluar rumah, dan memilih atau secara terpaksa dia tidak bisa keluar rumah.

Seorang yang secara sadar mengalami kebosanan, tapi lagi-lagi dia seorang penulis dan suka membaca, tak ada yang sia-sia dimatanya. Setidaknya, ia bisa menulis masa kanak-kanaknya yang menyenangkan dan kata sebagian orang, masa itu tidak ada beban di sana. Bagiku tidak demikian. Ketika aku kanak-kanak dulu, aku sudah diliputi dengan masalah. Dari masalah keluarga maupun masalah pergaulan dengan teman-temanku. Terlebih ketika aku melakukan sesuat yang membuat temanku itu celaka. Seperti pada waktu itu, aku dengan niat ingin mencandai temanku yang usianya terpatu dua tahun di bawahku, dengan cara mendorong dia ke kali kecil yang melewati tengah kampung kami. Nah, ceritanya aku mengikuti temanku yang lain yang sebelumnya juga melakukan seperti itu. Tapi, belum sampai dia jatuh, temanku ini sudah menariknya lagi. Tangannya masih berada di punggunya, membuntuti dari belakang, untuk kemudian dengan sigap segera meraihnya. Jadi, tidak sampai benar-benar melepaskan temanku itu. Dan aku yang ikut-ikutan ternyata tak berhasil. Alhasil, temanku yang aku jadikan percobaan pertama dan terakhir itu tercebur di kali. Ia nangis karena kaget dan bajunya basah. Aku lupa keadaanku setelahnya, antara lari atau malah mematung di tempat itu. Aku kalut. Dalam kepalaku sudah terbayang omelan Neneknya atau sikap sinis sepupunya yang sering berkata menyakitkan hati itu. Hemm… tapi sepertinya aku lari karena takut diomeli sama Neneknya yang berperawakan kurus dan tidak begitu tinggi tapi tentu saja kalau marah omelannya bikin ciut nyali. Dan beberapa hari setelahnya, aku tidak main di lingkungan situ dan pastinya tidak bermain dengan teman yang secara tidak sengaja aku ceburkan dirinya ke kali.

Masalah-masalah seperti inilah yang sebenarnya aku katakan masa kanak-kanak itu adalah masa di mana juga sudah ada masalah di dalamnya. Makanya ketika siapapun orangnya mengatakan masa di mana tidak ada masalah, aku berselisih dengannya. Soalnya yang aku rasakan, justru aku sudah mendapat masalah sejak kecil. Dan hal semacam itu menurutku adalah sebuah masalah.

Sepertinya aku terlalu jauh membahas hal ini. Aku akan kembali membahas bagaimana kebosanan itu tidak berarti apa-apa bagi seorang yang suka membaca dan menulis. Semua kebosanan itu dapat teratasi ketika dia berada di rumah berhari-hari. Dari keadaan seperti itu, ia bisa membaca beragam buku. Dan di zaman sekarang ini, akses internet adalah penghambat untuk menulis dan membaca buku. Aku pikir sekarang ini, beberapa hari ini tanpa internet, aku merasa bersyukur karena bisa menuntaskan beberapa buku yang berhasil aku unduh secara online. Atau beberapa ebook yang sebelumnya sudah aku unduh tapi, karena sibuk berselancar di sosial media, menjadi tak sempat terbaca.

Hal yang tidak kalah pentingnya, agaknya menghilngkan kecanduan berselancar di internet, untuk kemudian fokus membaca dan menulis. Akan banyak sekali ide yang terlintas di kepala. Apalagi dengan menceburkan diri di samudera kata-kata yang akan membuat kepala kita riuh dan banjir kata-kata. Ah, betapa senangnya bisa tenggelam dalam lautan kata-kata dari para penulis kenamaan. Atau bisa ikut berpetualang, mengikuti kemana pencerita membawaku ketika aku sedang membaca buku Candide karya Voltaire, bisa juga berada di pondok madani, seperti yang aku rasakan ketika sedang membaca Negeri 5 Menara-nya, A. Fuadi, atau bisa memahami sesuatu yang sebelumnya tidak kupahami, menjadi tercerahkan setelah membaca penjelasan di dalam buku yang membahas seputar pemikiran Islam.

Pada akhirnya, aku hanya ingin sedikit menuangkan keriuhan pikiranku yang sedang bosan berada di rumah. Dan juga secara tak langsung mengingat kembali sebuah quotes dari penulis Barat, yang sedikit banyak telah aku bahas di awal-awal tulisan ini. Setidaknya merasa lebih baik setelah menuangkan beberapa ide yang terlintas di kepala. Ah…

dhivan | 30 Oktober 2017

Menerima Takdir dan Menjalaninya hingga Akhir

Tags

, , , , , , , , ,

Arnie (Leonardo DiCaprio) dan Gilbert Grape (Johnny Depp), via: intofilm(dot)org

Tumbuh sebagai pemuda yang menggantikan kewajiban sang ayah menafkahi keluarga dan mengayomi adik-adiknya yang satu diantaranya keterbelakangan mental, tentu bukan pilihan populer. Lebih enak, menjadi pemuda bebas. Dengan kata lain, hanya mengurus dirinya sendiri. Merantau menuntut ilmu, memiliki pekerjaan, kenal dengan wanita idaman, lalu menikah dan hidup bahagia. Tentu jalan hidup yang lebih banyak peminatnya.

Gilbert Grape (Johnny Depp) adalah pemuda yang mampu menjalani takdir yang pertama itu. Tentu, bukan pilihan sukarela. Ayahnya meninggal gantung diri di ruang bawah tanah rumahnya. Sebagai anak tertua, bukan pilihan yang bijak pergi meninggalkan keluarga. Ibunya yang obesitas dan ketiga adiknya yang masih membutuhkannya, seakan menarik-narik lengan kemejanya untuk tak pergi jauh-jauh. Setidaknya untuk meringankan beban kedua adik perempuannya mengurus rumah, -menggantikan peran ibu mereka yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah lantaran tubuh yang semakin makan tempat dan susah berjalan-. Juga adik laki-lakinya, Arnie (Leonardo DiCaprio) yang butuh diurus lantaran keterbelakangan mental. Continue reading

Mencintai dengan Sederhana

Tags

, , , ,

Mencintai dengan sederhana, via: profhariz.com

Menurutku kemesraan itu tidak perlu diumbar berlebihan. Cukup nikmati saja berdua. Bukankah kemesraan itu tidak perlu mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Biasanya yang dipamerkan itu saat-saat bahagia saja. Sementara dalam hubungan itu pasti akan ada masalah entah besar atau kecil. Di saat-saat seperti itu pastinya kamu akan menutup rapat-rapat. Tidak ingin orang lain tahu. Nah, disini akan menimbulkan tekanan untuk selalu terlihat bahagia. Ah, sungguh merepotkan. Continue reading

Di Bangku Taman

Tags

, , , , , ,

bangku taman

Photo by Alisa Anton

Tak ada sepatah katapun terucap dari bibirku juga bibirnya. Dalam kesepakatan yang tidak diutarakan itu, kami sepakat untuk tidak saling menyapa. Pandanganku lurus ke depan, sementara dia asyik membaca buku. Selain kami, ada bangku taman yang sedari tadi diam meski kami duduki bermenit-menit.

Pagi itu, angin berhembus pelan membawa kesejukan ketika mentari sedang terik. Pucuk-pucuk cemara di area taman itu berdesir ditiup angin. Kusandarkan tubuh ramping ini di bangku taman. Kupandangi sekeliling, menikmati gemerisik daun yang saling bersentuhan juga mendengar kicauan burung-burung liar yang hinggap di ranting pohon. Continue reading