Tags

, , , , , , , , ,

Bangunan indah di Paris

Melihat dengan cermat facade bangunan-bangunan yang indah dan suasana kota paris yang memesona. Montmartre, Paris, France. Photo by JOHN TOWNER

Mengamati lebih dari biasanya ketika melihat sesuatu merupakan hal yang baru bagiku. Sebelum suka menulis, biasanya hanya melihat sekilas tanpa memperhatikan detail-detail yang aku lihat. Melihat sambil lalu tanpa ada tujuan lain kecuali menangkap apa yang tampak dalam indera pengelihatan. Itu saja yang aku lakukan. Seumpama melihat sesuatu dengan jelas pun tidak tahu, akan diarahkan kemana pengelihatanku itu di waktu kemudian. Dan nanti apakah penting apa yang aku lihat dengan saksama apa-apa yang aku lihat tadi. Sebagaimana mengamati kehidupan di sekeliling itu tidaklah berarti, toh kita sering merasakan juga melihat kehidupan di sekitar kita memang ramai. Kalaupun sepi, mungkin karena hati kita saja yang sedang diliputi kesedihan sehingga suasana keramaian sebuah kota menjadi terasa sepi karena keadaan yang tidak menentu sedang kita rasakan.

Ketika aku mulai mengamati berbagai hal. Dari mulai mengamati bagaimana sebuah tulisan yang ditulis oleh sastrawan atau novelis itu menjadi menarik, aku kemudian juga mengamati berbagai hal yang dimungkinkan bisa menjadi sebuah bahan tulisan. Tidak harus sebuah hal yang sepektakuler. Kehidupan hewan kecil seperti semut, atau melihat bagaimana cara berinteraksi satu orang dengan orang lainnya pun bisa menjadi pekerjaan yang mengasyikan sebagai ganti dari lamunan yang seringkali tidak menghasilkan apa-apa kalau tidak diniatkan untuk mencapai tujuan tertentu.

Sebelum menulis ini, aku sudah mengamati bagaimana interaksi kawanan semut yang saling bertemu secara intensif antara seekor semut dengan semut lain. Kalau dilihat sambil lalu mungkin tidak ada yang menarik dari kawanan semut yang selalu berjalan di jalur imajiner yang tidak kita lihat, tetapi lintasan itu mungkin telah menjadi kesepakatan umum dari kawanan semut sebagai jalur menuju sarang ke tempat mereka menemukan makanan.

Kita bisa berasumsi macam-macam apa yang sedang diperbuat kawanan semut ketika mereka bertemu. Kalau aku melihat lagi dengan lebih fokus, dan mengamati beberapa menit melihat seekor semut berjalan melintasi jalan imajiner yang telah mereka tentukan itu. Ada seperti cipika cipiki yang teramat singkat yang sedang mereka lakukan. Karena seperti dengan sangat cepat mereka saling mencium pipi kiri dan pipi kanan seekor semut yang ia temui. Sebelum itu terjadi, mereka telah menyaksikan dari jauh menurut ukuran semut, bahwa mereka pasti akan berjumpa. Tidak ada niatan tidak ingin bertemu, kemudian mencari jalan lain di luar jalan yang telah mereka sepakati bersama. Mungkin kalau berbeda jenis semut, mereka baru akan melewati jalan lain. Tapi tidak dengan sekawanan semut yang sejenis. Mereka tetap akan bercipika-cipiki, meski diantara mereka sedang ada yang marahan. Mungkin saja begitu.

Selain mengamati denga lebih mendetail dari biasanya kawanan semut, aku juga mencoba untuk menulis denga lebih menggambarkan keadaan sebuah obyek yang aku lihat dengan lebih menunjukan ciri khas obyek yang aku lihat. Pada mulanya memang butuh usaha yang sangat membikin frustasi. Karena mencoba keluar dari zona nyaman yang biasa dilakukan itu sungguh tidak mudah. Perlu belajar lebih banyak, dan butuh usaha lebih untuk mengubah cara menulis dengan mencoba keluar dari barisan kebiasaan menuju tujuan lain yang jika ditempuh akan sampai pada tujuan menulis itu sendiri.

Nah, kalau kebiasaanku yang dulu kan asal nulis tanpa memperhatikan bagaimana kaidah atau ilmu menulis. Sekarang ini dengan sedikit membaca namun rutin, aku bisa mengambil perlajaran dari tulisan para penulis atau sastrawan dunia yang kita bisa bilang bawah tulisan mereka itu menjerat. Namun, semua ini tidak lepasa dari sebuah doa yang biasanya aku panjatkan sebelum membaca. Disamping untuk diberikan kepahaman dari apa saja yang aku baca, dijauhkan dari ketersesatan berpikir, dan yang tak kalah pentingnya aku meminta agar mampu untuk menulis sebagaimana cara menulis dari para penulis favoritku. Dan aku memiliki keyakinan bahwa jika doaku itu baik buat diriku, pasti Allah Swt. akan mengabulkannya.

Kondisi yang menodorong diri kita untuk fokus ini juga tidak melulu tentang pengamatan dengan indera pengelihatan saja. Kadang, ketika kita mendengarkan musik yang kita gemari, kemudian kita ingin mendengar bagaiman pola sebuah drum digebuk dengan tempo tertentu, akan kita temukan bahwa suara alat musik lainnya dan suara vokalis mendadak akan menjadi lirih. Kemudian seolah-olah yang terdengar lebih keras adalah suara yang dihasilakn dari gebukan drum set yang menghasilan sebuah nada tertentu. Kalau tidak ada sebuah pola atau ketukan tertentu pastinya drum tersebut tidak bakal selaras dengan alat musik lain. Dan agaknya tidak menjadi sebuah lagu utuh yang pada akhirnya memanjakan telinga kita yang telah menikmati hasil racikan dari sebuah lagu.

Dan titik fokus kita saat mendengarkan musik juga bisa dialihkan pada alat musik lain, semisal gitar, keyboard atau bass gitar. Akan kita jumpai keadaan yang sama ketika kita memfokuskan pendengarak kita untuk memahami bagaimana sebuah drum tadi kita dengarkan. Akan terdengar ciri khas dari alat musik tertentu yang telah dimainkan dengan nada bunyi yang telah mereka temukan sebelumnya. Dan tentu saja seolah-olah alat musik lain mendadak menjadi mengalun lirih dan alat musik yang kita fokuskan untuk kita pahami, menjadi semakin naik suaranya dan memberikan kita suguhan melodi solo guitar yang nadanya mengalun dengan lincah, meliuk-liuk dengan anggun bagaikan penari balet professional, jika yang kita dengar adalah alat musik gitar.

Seperti itulah keindaha-keindahan yang dapat kita rasakan ketika kita mengamati lebih cermat dan lebih teliti apa saja yang kita dengar atau lihat. Namun, kita atau saya sendiri, seringkali mengabaikannya.

dhico velian | 21 November 2017