Tags

, , , , , , ,

quotes menulis dari ernest hemingway

Ernest Hemingway, via: tumblr.com

“There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.” – Ernest Hemingway

Sebagai pemuda yang menggemari sastra dan ingin sekali menulis dengan gaya bertutur naratif dan diskriptif dengan baik, saya seringkali kecewa ketika tidak mampu menulis seperti yang saya inginkan. Tidak ada ide sering menjadi kambing hitam yang membuat saya tidak menulis. Tentu di lain waktu ketik sudah ada ide, muncul alasan lain: kekurangan bahan untuk mengembangkan ide tersebut menjadi tulisan utuh yang menarik dibaca. Beragam alasan inilah yang membuat saya selalu frustasi ketika sudah berada di depan monitor dengan jendela microsoft word yang masih kosong. Tak ada sepatah katapun berhasil aku bubuhkan di sana.

Sebenarnya hal ini merupakan tantangan bagi saya untuk segera mengisinya. Tapi, karena beragam alasan yang sebelumnya telah saya kemukakan, semangat yang membara itu pupus bertumpuk dengan kekecewaan-kekecewaan. Alasan klasik memang, yang membuat siapa saja yang berkeinginan menulis menemui apa yang disebut dengan ujian kesungguhan.

Ternyata hal ini tidak hanya dialami oleh calon penulis saja. Aku pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa sastrawan Amerika, Ernest Hemingway juga mengalami hal ini. Baginya menulis itu, pekerjaan yang tidak ringan. “Kau berada di depan mesin tik, dan berdarah-darah.” Kurang lebih seperti itu, aku tidak mengingat redaksinya.

Kalau seorang sastrawan dengan reputasi masif saja masih mengalamai kesulitan. Apalagi aku yang belum satupun menerbitkan buku. Ah, tapi kondisi seperti itu tentu bukan alasan yang dibenarkan bagi seseorang yang bercita-cita menjadi penulis. Ada sebuah kualitas yang mestinya ditingkatkan untuk menjadi penulis yang handal. Dengan karya yang patut diperhitungkan oleh banyak penulis kenamaan. Memang hal itu bukan tujuan utama, namun menjadi cara efektif menunjukan pada banyak orang bahwa tulisan kita berkualitas. Setidaknya inilah obsesiku saat ini. Entah, bagaimana di hari-hari selanjutnya.

dhico velian | Yogyakarta, 7  November 2017. 08:22 a.m.