Tags

, , , , , , ,

Inti dari menulis itu yang penting kamu paham. Kalau tidak paham lantas apa yang akan kamu tulis? Jika penulis itu paham dengan apa yang ditulisnya, besar kemungkinan akan menghasilkan tulisan yang bagus. Di sini yang saya maksud bagus adalah kalau itu sebuah pemahaman Islam, maka akan mencerahkan; kalau itu sebuah novel, maka pesan tersirat ataupun tersurat akan sampai ke pembaca; jika itu berita, maka akan mampu menjelaskan pada masyarakat peristiwa yang terjadi.

mesin ketik

Mesin ketik, via: Yeah Write

Kadangkala, penulis pemula seperti saya, terkendala dengan isi tulisan yang terasa dangkal. Apa sebab? Saya pribadi, biasanya kurang membaca banyak referensi. Kadang hanya mencari beberapa bacaan, kemudian langsung ditulis. Kalau saja saya mencari lebih banyak bahan dari berbagai sumber, kemungkinan tulisan saya akan semakin baik. Karena saya paham dengan apa yang saya sampaikan.

Kalau ingin bisa menulis bagus, tetapi tidak perlu membaca, ada? Ada, yakni tulislah catatan harian. Kita tidak perlu membaca apa-apa, karena yang akan kita sampaikan sudah kita pahami. Bagaimana tidak, yang akan kamu tulis itu kan seputar keseharianmu. Tapi untuk dapat menulis dengan baik, kamu perlu membaca juga sih, paling tidak untuk menambah kosa kata agar kata yang digunakan lebih berfariasi. Sehingga kata penghubungnya nggak cuma, lalu, lalu dan lalu. (Itu sih pengalaman saya waktu SD saat disuruh Bu Guru mengarang.) Hahaha

Ini juga berlaku untuk seorang pembicara (speaker). Ia dapat memukau audience, jika dirinya telah menguasai materi. Dari mulai pembukaan, isi, dan penutup. Dalam buku Ilmu Retorika Untuk Mengguncang Dunia, dijelasakan bahwa seorang public speaking itu haruslah sukses membuka dan menutup. Sedangkan dalam penyampaian isi, haruslah sukses memberi masalah, baru kemudian berikan solusi yang relefan. Dengan kata lain sukses memberi masalah, diberengi dengan sukses memberi solusi.

Sebenarnya apa yang saya sampaikan ini berkaitan dengan pengertian berpikir. Berpikiri itu mesti ada 4 komponen. Keempat komponen ini haruslah terpenuhi semuanya, jika tidak, maka yang terjadi bukan berpikir, tapi menghayal. Keempat komponen ini adalah fakta, indera, otak yang sehat, dan informasi sebelumnya. Contohnya seperti ini, saat kita dihadapkan dengan buah apel, kita disuruh menyebutkan nama buah tersebut, jika jawabannya adalah apel (atau kata lain yang mempunyai arti yang sama), maka kita sedang berpikir. Karena mampu mengkaitkan fakta dengan informasi sebelumnya.

Hal ini dapat kita lihat perbedaanya dengan orang yang tidak tahu. Akan saya berikan contohnya terkait dengan tidak adanya informasi sebelumnya tentang fakta yang disodorkan. Contohnya saat kita menunjukan sebuah HP pada orang-orang pedalaman yang sebelumnya tidak tahu tentang benda tersebut. Ketika dia diminta menyebutkan nama benda tersebut, mungkinkah ia akan menjawab dengan benar? Tidak. Mengapa? Karena ada satu komponen berpikir yang tidak terpenuhi, yakni informasi sebelumnya.

Dapat disimpulkan bahwa orang yang paham itu mampu mengkaitkan fakta dengan maklumat (informasi sebelumnya). Baik disebutkan dulu fakta ataupun maklumatnya.

Dari pengertian berpikir itu bisa dikaitkan dengan menulis. Kalau kita sudah menguasai materi (informasi sebelumnya), apa yang akan kita sampaikan dapat mengalir dengan lancar. Tinggal penyusunan kata-katanya yang perlu kita pikirkan. Karena inti dari menyampaikan (baca: menulis) sebenarnya bekaitan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Entah pertanyaan itu kita tulis atau tidak.[]

Advertisements