Tags

, , , , ,

Sebaik-baik teman duduk adalah buku. Merupakan sub judul dalam buku La-Tahzan yang fenomenal itu. Buku memang baik sekali. Setiap kali aku duduk bersama, tak satupun kesalahan dilakukannya. Ia tidak pernah mengganggu ketenanganku. Ia diam namun sebenarnya tidak. Ia berbagi sesuatu padaku. Namun, aku justru mengusamkannya.

Baca buku di alam terbuka. via:

Baca buku di alam terbuka, via: books are friends

Membaca menjadi jembatan perkenalan dengan buku. Setiap kalimat semakin mempererat kita. Aku dan buku mungkin belum terlalu akrab. Tapi, hampir setiap hari aku selalu ada bersamanya. Menemaniku duduk, meski hanya beberapa menit. Dan alangkah senangnya berdua-duaan dengannya. Disamping tidak dosa, tambah ilmu lagi.

Setiap ketertarikan pastiah memiliki alasan. Inilah alasanku, yang dulunya tidak suka baca menjadi suka. Rasa ingin tahu yang tinggi menjadi alasannya. Bermula dari ngaji, aku menjadi ingin tahu akan banyak hal. Pelampiasan itu tersalurkan dengan buku. Bermula dari buku agama Islam, merembet ke buku-buku lain, tak terkecuali novel.

“Kesendirian tidak akan merusakmu selama kamu bersama buku.” Begitulah kira-kira kalimat yang ada dalam buku La-Tahzan yang tadi aku baca. Buku memang penyelamat waktu kita yang berkemungkinan dibuang sia-sia. Bicara tentang sia-sia, memang setiap orang punya sudut pandang masing-masing. Dan berkaitan juga denga apa yang ingin dicapai dalam kehidupannya.

Membaca membuatku bisa menulis. Banyak hal yang bisa ditulisa selepas membaca. Meski hanya membaca beberapa lembar, tetap saja ada inspirasi bagi pembacanya. Selain itu, kosa kata akan semakin bertambah. Itulah salah satu yang diperoleh saat membaca buku.

Selasa, 13 Desember 2016

Advertisements