Tags

, , , , , ,

Membaca beberapa paragraf awal yang cukup kreatif, aku langsung tertarik dengan novel Le Petit Prince. Novel ini dialih bahasakan menjadi Pangeran Cilik. Terus terang novel ini cukup keren. Tak sabar ingin segera menuntaskannya pada waktu itu.

le-petit-prince

Ular memakan gajah, namun orang dewasa mengiranya topi. Via: Le Petit Prince

Saat membaca nama pengarangnya, Antoine de Saint-Exupéry, kita tahu bahwa ia bukan orang Inggris. Ya, memang bukan. Ia orang Perancis, seorang penerbang.

Le Petit Prince – Pangeran Cilik sekilas terlihat seperti novel anak-anak, padahal bukan. “Kepada anak-anak aku mohon maaf, karena mempersembahkan buku ini kepada orang dewasa.” begitu tulisnya.

Bercerita tentang seorang penerbang yang tersesat di gurun Sahara karena pesawatnya jatuh dan rusak. Ia bertemu dengan anak kecil dengan kostum pangeran. Dialah Pangeran Cilik yang berkelana meninggalkan planet kecilnya (asteroid) untuk menjelajahi alam semesta. Di asteroid itu terdapat 3 gunung yang tingginya hanya selutut. Dua gunung aktif dan satu sudah mati. Setiap minggu selalu ia bersihkan gunung-gunung itu. Terdapat juga bunga-bunga yang memperindah tempat tinggalnya.

Dalam novel ini penulis banyak menyinggung kebiasaan dan sikap orang dewasa. Seperti imajinasi mereka yang sudah tidak “sebebas” waktu kanak-kanak.

Selain itu, meski novel bergenre fantasi, novel ini banyak menyoroti kehidupan di sekitar kita. Seperti bagaimana menghadapi sikap wanita yang cenderung membingungkan bagi pria.

Dalam novel ini, menurut saya, sosok wanita diwakili oleh bunga mawar.

Aku tidak mengerti apa-apa waktu itu! Seharusnya aku menilai atas dasar perbuatannya, bukan kata-katanya. Ia mengharumi dan menerangi diriku. Aku tidak pantas melarikan diri. Aku semestinya menebak kemesraannya di balik tipu dayanya yang kekanak-kanakan. Bunga-bunga itu begitu penuh kontradiksi. Tetapi waktu itu aku masih terlalu muda untuk bisa mencintainya. -hal 39.

Advertisements