Tags

, , , , , , ,

Takabur dan ujub adalah penyakit hati yang sulit terdeteksi. Berbeda ketika penyakit itu berupa penyakit fisik, Dokter bisa mendeteksinya. Sedangkan penyakit hati, kalau kita tidak muhasabah, kita tidak akan tahu bahwa di hati kita ada penyakit.

Beberapa minggu lalu, Alhamdulillah, Saya mendapatkan ilmu tentang takabur dan ujub. Maksud saya adalah pengertian takabur dan ujub. Menjadi penting bagi kita mengetahui definisnya. Karena jika kita tidak mengetahui, kita akan sulit mendeteksi apakah dalam diri kita terdapat sifat itu atau tidak.

rumput berembun

Rumput berembun, via: Wallpapers Craft

Mari kita simak penjelasan dalam buku Nafsiyah Islamiyah berikut ini yang Saya salin secara acak:

Definisi Takabur (Sombong):

Imam Muslim telah meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekalipun hanya sebesar biji sawi. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki yang menyukai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus (bagaimana orang itu?, penj.).”Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan Allah mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan menyepelekan manusia.” (Terjemahan)

Arti bathr al-haq adalah menolak dan membantah kebenaran dari orang yag mengatakannya. Arti ghamtu an-nas adalah meremehkan dan menyepelekan manusia. Ada yang mengartikan sombong adalah al-Makhilah (berjalan dengan membusungkan dada, penj.) Pendapat lain mengatakan, “Sombong adalah mengangkat diri di atas kondisi yang sebenarnya.” Juga ada yang mengatakan, “Sombong adalah takjubnya seseorang kepada dirinya, sehingga ia melihat dirinya lebih besar dari yang lain.” Tempat kesombongan adalah di dalam hati, berdasarkan firman Allah:

Tidak ada dalam dada (hati) mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran… (TQS. Ghafir [40]: 56)

Definisi Ujub:

Adapun ujub adalah memandang diri sendiri dengan padangan yang bagus. Sehingga seseorang menggambarkan dirinya ada pada martabat yang sebenarnya tidak layak baginya. Perbedaaan antara takabur dan ujub adalah, bahwa ujub tidak akan menyeret pelakunya kepada perbuatan yang lain, sehingga orang yang ujub bisa membanggakan dirinya pada saat ada di tengah-tegah manusia, atau pada saat menyendiri. Berbeda dengan takabur. Karena takabur ini adalah sikap sombong kepada manusia, sembari membusungkan dada, dan penolakan terhadap kebenaran, serta merasa lebih hebat dibandingkan orang lain.

Takabur dan Ujub keduanya diharamaknan berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam bab sombong, Mujahid berkata tentang firman Allah : “Tsania itfihi”, maksudnya merasa besar dalam dirinya, ia dibelokan oleh lehernya.

Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Haritsah bin Wahab al-Khazaiy dari Nabi saw., beliau bersabda:

Perlu aku beritahukan kepada kalian tentang ahli surga, yaitu setiap orang lemah yang menempatkan diriya sebagai orang yag lemah. Andaikata ia bersupah atas nama Allah, maka pasti ia akan melaksanakannya. Perlu aku beritahukan kepada kalian ahli neraka, yaitu setiap orang yang suka memaksa, yang suka berjalan denga membusungkan dada dan orang yang sombong. (Terjemahan)

Muslim dalam kitab Shahih-nya dan Al Bukhari dalam kitab al- Adab al-Mufrad, kedanya telah meriwaatkan dari Abu Hurairah dan Abu Sa;id al-Khudri, keduanya berkata; Rasulullah Saw. bersabda:

Kemuliaan adalah pakaian Allah. Kesombongan (kebesaran) adalah selendang Allah. Allah berfirman, “Barangsiapa yang menyamai-Ku, maka Aku akan menyiksanya.” (Terjemahan)

Ibnu Hibban dalam Raudhatul Uqala, Ahmad dan al-Bazzar, telah meriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab –al-Mundziri berkata, perawi keduanya bisa dijadika hujjah dalam keshalihan – Ummar ra., berkata:

Sesungguhnya manusia jika tawadhu karena Allah, maka Allah akan mengangkat hikmahnya. Allah berfirman, “Berseang-senanglah, niscaya Allah akan memberikan kesenangan kepadamu.” Orang seperti itu kecil dalam dirinya tapi besar dalam padangan manusia. Jika seorang sombong dan telah melampaui batas-Nya, maka Allah akan meginjaknya di atas bumi. Allah berfirman, “Hinalah engkau, maka Allah akan menghinakanmu.” Orang tersebut besar dalam dirinya tapi kecil dalam pandangan manusia. (Terjemahan)

Imam an-Nawawi telah meriwayatkan dalam al-Majmu’ dari asy-Syafi’i, ia berkata, “Siapa saja yang menjunjung tinggi dirinya di atas rata-rata, maka Allah akan mengembalikannya pada nilainya semula.” asy-Syafi’i berkata, “Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah memandang kedudukannya. Dan manusia yang paling banyak keutamaanya adalah orang yang tidak pernah melihat keutamaan dirinya.”


Semoga kita semua dimudahkan Allah untuk menjauhi sifat takabur dan ujub. Aamiin…

Advertisements