Tags

, , , , , ,

Ottoman Istanbul, 1800's

Ottoman Istanbul, 1800’s via: Ottoman Imperial Archives

Manusia sering mengira bahwa dirinya serba tahu. Padahal apa yang menurut manusia itu baik belum tentu baik menurut Allah. Begitu juga sebaliknya, apa yang menurut manusia itu buruk, belum tentu buruk menurut Allah. Itu karena akal manusia terbatas. Akal manusia hanya mampu menilai sesuatu sebatas ilmu yang dimilikinya. Padahal ilmu Allah teramat luas, sehingga menusia sejatinya hanya mengetahui sedikit saja.

Terkadang kemiskinan lebih baik daripada bergelimang harta. Dalam memoar Istanbul, kenangan sebuah kota karya Orhan Pamuk. Ia menceritakan bahwa dalam kehidupan selepas Kekhilafahan Utsmaniyah runtuh dan diganti dengan Republik, orang kaya baru bermunculan. Mereka mulai mendirikan industri yang menjadi awal perubahan hidup mereka menjadi orang berada. Seiring berjalannya wakut, keturunan mereka tidak mampu meneruskan usaha dari orang tuanya. Ada dari anak-anak mereka yang mencari peruntungan bisnis yang berbeda dari orang tuanya, namun karena kurangnya ilmu dan kemalasannya, membuat bisnis itu gagal juga. Harta dari orangtuanya lambat laun menipis. Hal ini juga dirasakan oleh keluarga Pamuk. Ayah dan paman, Orhan Pamuk terlalu boros dan tidak terampil mengelola bisnis keluarganya. Alhasil, harta mereka semakin hari semaki berkurang.

Dalam salah satu bab di buku tersebut, Orhan Pamuk menceritakan masa kecilnya saat tinggal di aparteman milik keluarga. Ia mengenang tentang kenakalannya semasa kecil terhadap pembantunya. Ketika itu salah satu dari pembantu di keluarga itu sedang melaksanakan ibadah shalat. Dari belakang, Pamuk kecil menaiki punggung pembantu wanita itu. Hal yang sering dilakukan anak kecil kebanyakan ketika melihat anggota keluarganya shalat.

Orhan Pamuk melihat bahwa sebagian besar orang-orang kaya berpaham sekuler. Agama atau dalam hal ini, orang yang taat beragama sebagian besar dimiliki oleh orang-orang miskin. Seperti ibadah yang dilakukan pembantunya, dilihat oleh Orhan Pamuk sebagai sesuatu yang asing. Orang kaya membutuhkan agama pada saat terjadi bencana atau sesuatu yang menggetarkan hatinya saja. Seperti kejadian kebakaran yang ia ceritakan terjadi di tepi selat Bosphorus. Baru disaat-saat seperti itu, mereka memiliki kecenderungan untuk taat.

Saya mengambil pelajarna dari sebuah fragmen kehidupan Orhan Pamuk. Bahwa ternyata “hidupan miskin” itu terkadang tidaklah buruk. Saya malah ingin mengucapkan selamat untuk orang-orang miskin di Istanbul pada waktu itu. Karena  kemiskinan menjadi jalan mereka dekat pada Allah Swt. Bisa jadi jika mereka kaya, tidak setaat itu. Bisa jadi mereka malah memiliki pemahaman sekuler yang sama dengan orang kaya itu.

Ya, memang menurut sebagian besar manusia, miskin itu hina. Namun ternyata faktanya tidak seperti apa yang kita pikirkan. Dalam Islam, semua keadaan berpotensi membuat seseorang mulia di hadapan Allah Swt. Kita bisa menyaksikan gambaran ini pada masa Rasul Saw. Ada diantara sahabat yang memiliki kekayaan yang melimpah, ada juga yang hidupnya pas-pasan.

Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar adalah diantara sahabat yang termasuk orang-orang kaya. Bisa dibilang mereka ini seorang entrepreneur. Sedangkan Bilal Bin Rabah, Salman al-Farisi, mereka memilih hidup pas-pasan.  Namun mereka mendapatkan kesempatan yang sama meraih kemuliaan dari Allah Swt.

Bilamana kita melihat keadaan tersebut, sebenarnya kehidupan para sahabat sama dengan realitas kehidupan kita di zaman ini. Ada orang kaya, ada juga orang yang hidupnya pas-pasan. Oleh karena itu, sebenarnya kita memiliki kesempatan yang sama untuk  mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah.

Kita akan mendapatkan kemuliaan dengan kita membela agama Allah, mengikuti jalan hidup para sahabat. Setidak-tidaknya, kita mencintai jalan hidup para sahabat.[]

Tulisan lama!
Selasa, 20 Oktober 2015

Advertisements