Tags

, , , ,

mimar sinan

Mimar Sinan, arsitek Masjid Sulaimaniye. Ilustrasi dari: modilatrust.co.za

Bangunan-bangunan dengan arsitektur klasik, seperti di Turki dan juga di Spanyol pada masa pemerintahan Islam menarik hati saya. Sebut saja Hagia Sophia, Masjid Sulaimaniye di Turki, dan juga Masjid Kordoba di Spanyol adalah sederet bangunan yang menginspirasi. Bangunan-bangunan seperti itu membuat saya memilih jurusan teknik gambar bangunan ketika STM. Kala itu, menjadi arsitek adalah cita-cita saya.

Selain bangunan-banguan tempo dulu, bangunan-bangunan bergaya minimalis modern yang identik dengan bentuk kotak. Dengan landscape taman yangย  juga minimalis, menjadi salah satu alasan saya masuk jurusan itu. Ketika teman-teman lain masuk di jurusan tersebut karena terpaksa, saya pribadi tidak merasa dipaksa siapa-siapa, oleh NEM rendah sekalipun. Karena saya memiliki keinginan untuk menjadi arsitek, yang berharap nantinya dikenang sebagai “si perancang bangunan bersejarah.”

Karena tidak melanjutkan kuliah, saya kemudian bekerja. Di tempat kerja itu saya belajar bagaimana menggambar bangunan-bangunan rumah tipe 45, atau tipe banguan satu lantai lainnya. Pekerjaan itu saya geluti selama satu tahun, kemudian karena ada ketidakcocokan dengan perusahaan, saya memutuskan untuk keluar.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata menjadi orang yang mampu merancang bangunan penting dan bersejarah itu tidak mudah. Harus menempuh jenjang pendidikan tinggi dan pengalaman yang mumpuni.

Sekarang saya move on ke menulis. Mungkin inilah salah satu passion yang mampu menggantikan minat saya menjadi arsitek, yang kata orang passion itu membuat kita hidup lebih hidup. Menulis selalau menawarkan tantangan hari demi hari. Tanpa itu mungkin saya akan bingung mengisi waktu luang dengan apa.

Pada akhirnya passio dan keyakinan kitalah yang membuat kehidupan ini lebih bermakna. Aktifitas yang dilakukan karena kecintaan kita pada sesuatu itu dapat meningkatkan semangat dalam menjalani kehidupan ini. Ia bukanlah uang yang katanya mampu membeli segalanya, termasuk kebahagiaan. Karena seorang Muslim bukan orang yang diperbudak uang, karena ia hanya meletakkan uang di tangannya bukan di hatinya.

Advertisements