Tags

, , , , , ,

bermain layang-layang

Bermain layang-layang, via: tuoitrenews.vn

Padi yang menguning menjadi tanda musim layang-layang tiba. Di suatu sore, anak-anak dan orang dewasa -meski tidak bersamaan, mereka melangkah menuju sawah. Hamparan sawah yang terletak di timur kampung itu cukup luas.

Biasanya kami akan memilih sepetak sawah yang sudah dipanen. Yang tersisa tinggal lumpur kering yang dibiarkan apa adanya menunggu musim tanam berikutnya. Diantara sawah kering itu masih terdapat beberapa sawah yang ditanami padi , yang masih terdapat banyak air. Biasanya sawah seperti itu yang sering dihindari saat menerbangkan layang-layang. Karena salah sedikit, bisa-bisa layang-layang akan masuk dalam kubangan lumpur.

Angin sore yang cukup kencang, membuat layang-layang cepat mengudara. Tidak berapa lama, kita bisa melihat belasan layang-layang tersebar di langit di atas kampung. Ada yang tenang, ada juga yang bergerak lincah, seolah menantang layang-layang lain di dekatnya.

Bagi kami anak-anak yang tinggal di kampung, musim layang-layang satu dari banyak musim yang kami tunggu-tunggu. Bukan karena keseruannya bermain layang-layang, tapi karena kami bisa berebut layang-layang putus. Bagiku, mengejar layang-layang yang putus setelah kalah dengan layang-layang lain adalah hal yang menyenangkan. Sama menyenangkannya seperti anak kecil yang diberi uang saku lebih oleh orangtuanya.

Saat berlari, kita dituntut untuk sering-sering mendongak ke arah layang-layang putus yang terbawa angin itu. Hal ini untuk menentukan jalan mana yang paling cepat sampai di lokasi layang-layang jatuh. Jantung berdetak kencang, efek dari lari dan semangat untuk mendapatkannya. Sambil terus konsentrasi mengejar layang-layang, sambil mengamati pergerakan teman-teman lain yang juga ikut mengejarnya.

Jalan kecil kampung, pekarangan luas yang ditumbuhi pepohonan, sungai dengan air yang tak terlalu deras, pematang sawah, sampai jalan raya menjadi rute yang biasa kita lewati demi mendapatkan sebuah layang-layang. Kalau sedang kurang beruntung, layang-layang akan bersarang di ranting pohon yang tinggi. “Yah!” Reaksi spontan kami saat layang-layang yg dikejar akhirnya tersangkut di ranting pohon.

Seperti itulah gambaran masa kecil di kampung saat bermain layang-layang. Bermain memang selalu melingkupi kehidupan anak-anak. Bedanya anak-anak jaman dulu, sebagian besar permainan dilakukan di luar rumah, kalau jaman sekarang cukup di dalam rumah sudah bisa bermain, entah dengan games komputer atau smartphone.

Keseruan bermain layang-layang maupun mengejarnya tidak bisa disamakan dengan serunya bermain gadget canggih dewasa ini. Meski sama-sama melepas penat dan membahagiakan tapi tidak dipungkiri permainan anak-anak jaman dulu lebih menantang dan menyehatkan. Bagaimana tidak, sebut saja gobak sodor, petak umpet, bermain layang-layang, mencari ikan di kali, adalah permainan anak-anak jaman dulu yang menguras banyak energi dan memacu adrenalin.

Teknologi sejatinya memudahkan pekerjaan. Bukan sarana untuk bermalas-malasan. Bijak dalam memanfaatkan teknologi menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Agar dunia nyata kita tidak tergantikan oleh sibuknya kita bermain gadget. Sibuknya kita di sosial media.[dhico velian]

Advertisements