Tags

, , , , , , , ,

Black pepper Beef Over Rice

Ilustrasi by: http://malesmandi.com

Apa yang dilakukan anak-anak muda ketika di restoran? Yang pasti memesan makanan. Mereka akan melihat daftar menu untuk kemudian memilih menu yang cocok lalu menyerahkan pesanannya pada waiter. Sembari menunggu makanan datang. Biasanya yang dilakukan adalah foto-foto. Mencari angel yang pas untuk diunggah ke sosial media seperti facebook, atau instagram.

Bisa dilakukan sendiri – disebut dengan selfie. Atau meminta pelayan untuk memfotokan. Kemarin saya membaca opin di Jawa Pos yang ditulis oleh Rhenald Kasali. Beliau menulis kurang lebih, seperti ini. Sekarang tugas pelayan restoran tambah satu. Mereka dituntut untuk dapat memfoto. Untuk karyawan baru, skill memotret yang benar haruslah dimiliki. Sedangkan untuk karyawan lama, mau tidak mau harus bisa memotret dengan baik.  Mereka harus bisa memotret dengan baik. Bukan dengankamera, tapi dengan smartphone.

Tidak hanya harus pandai mengarahkan tetapi  pelayan restoran juga harus pintar mencari angel yang tepat untuk mempromosikan restoran tempat kerjanya. Anda tahu kan yang saya maksud? Ya. Pelayan harus cakap mengarahkan pengunjung pada background logo restoran tersebut.

Banyak keuntungan yang dipreoleh saat restoran didesain unik dan menarik. Instagramable kata anak jaman sekarang. Pemilik mesti serius merancang restorannya agar mendukung pengunjung untuk bisa berfoto dengan tidak melupakan logo atau elemen yang identik dengan restoran tersebut.

Menarik juga ulasan dari akademisi sekaligus praktisi bisnis tersebut. Seolah fenomena selfie yang bisa jadi mengarah pada tidakan narsisme itu, sudah banyak pengusaha restoran yang jeli meraup keuntungan dari gaya hidup anak muda masa kini.

Bagi seorang pebisnis, mereka tidak hanya memandang fenomena ini sekedar fenomena yang berkembang dewasa ini. Lebih dari itu, pemilik restoran sangat jeli dalam menyambut keadaan yang sekarang ini terjadi. Mungkin bagi sebagian orang, fenomena ini sudah berlebihan. Mengingat fenomena ini selain akan berdampak buruk pada pelakunya, lebih-lebih akan menjerumuskan pelakunya pada riya’, ujub, dan sejenisnya.

Ada juga ulasan yang sejalan dengan pembahasan ini. Saya baca di trulyjogja.com, dengan judul “Ritual Memotret Makanan.” Di awal artikel, tertulis seperti ini.

“Mau pakai stroberi gak?” | “Aku gak doyan stroberi, tapi bagus kalo difoto. Yaudah pakai deh, nanti buat kamu ya?” tulis Nurlina Maharani.

Sekarang “ritual” makan sudah berubah. Dulu sebelum makan itu berdoa. Sekarang berganti menjadi sebelum makan memotret makanan dulu. Entah kapan doanya. 🙂

Di Jogja ada komunitas instagram khusus makanan yang anggotanya lumayan banyak dengan kegiatannya sepeti ini. Memotret makanan. Kadang  mereka mendapatkan foto dari mengunjungi sendiri dan dengan uang mereka sendiri, tetapi kadang diundang oleh pemilik usaha untuk mencicipi, memfoto lalu mengunggah ke sosial media.

Saya pirbadi, kalau sedang makan bersama teman-teman, tidak ingin kehilangan moment saat berkumpul. Jadi sebisa mungkin untuk fokus di tempat itu, meskipun terkadang sulit juga untuk menghindari tidak sibuk sendiri dengan smartphone di tangan.[dhico velian]

Advertisements