Tags

, , , , ,

Sepemahaman saya, penerapan Islam secara kaffah itu tidak hanya sebatas penerapan aturan Islam terkait dengan hukum pidana. Penerapan Islam secara kaffah, adalah solusi bagi keberkahan sebuah negeri.

Al-Liwa’Image from: syariahpublications.com

Islam adalah rahmatan lil alamin. Rahmat bagi seluruh alam. Jadi jika syariah Islam diterapkan dalam setiap sisi kehidupan, sudah pasti kehidupan orang-orang yang tinggal dalam naungan Daulah Islam/Khilafah akan diliputi dengan keberkahan.

Seperti janji Allah dalam Al Qur’an Surat Al-A’raf: 96, berikut ini:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Terjemahan, Al-A’raf: 96)

Sayangnya, banyak musuh-musuh Islam yang tidak suka denga kebangkitan Islam. Mereka mempermasalahkan aturan Islam yang berkaitan dengan hukum pidana, seperti hukum potong tangan bagi pencuri, hukuman mati bagi orang yang membunuh orang lain secara sengaja, hukum rajam, qisas dan lainnya. Mereka menganggap bahwa aturan Islam itu kejam. Padahal mereka hanya menyoroti satu sisi saja, tidak melihat sisi lainnya. Sehingga akibat dari pemberitaan mereka yang selalu saja menyudutkan Islam itu, timbul pandangan di kalangan umat Islam sendiri bahwa pemerintahan Islam itu kejam.

Padaha dalam konsep negara Islam, Islam tidak hanya mengatur tentang hukum pidana. Syariat Islam juga mengatur tentang penanggulangan agar kejahatan tidak terjadi. Disebut juga dengan tindakan preventif. Tindakan preventif itu diantaranya, tidak boleh ada wanita yang sudah baligh, keluar rumah tidak menutup aurat. Pergaulan pria dan wanita terpisah, kecuali dalam pendidikan dan jual beli. Kebutuhan dasar rakyat tercukupi, seperti pendidikan gratis, biaya rumah sakit gratis dan tidak ada pajak yang dibebankan rakyat sebagai pemasukan Negara, kecuali dalam kondisi darurat. Jika semua itu sudah diterapkan kog masih ada yang mencuri melebihi ketentuan yang dijelaskan Syariat, masih ada yang berzina, membunuh orang dengan sengaja tanpa ada sebab yang dibolehkan Syariat, maka hukum terkait dengan tidakan pidana tersebut diberlakukan. Hukum potong tangan, hukum rajam dan qisas adalah tindakan terakhir pemerintah dalam penegakan hukum.

Maka jika penerapan Syariat Islam diterapkan hanya dalam bidang pidana saja namun tidak pada bidang lainnya, seperti Ekonomi, Sosial, Budaya, Politik dan lainnya, belumlah disebut dengan Pemerintahan Islam. Selain itu, tidak akan terlihat jelas bagaimana Islam yang dikatakan sebagai ramhatan lil alamin dapat membuat negeri-negeri lain yang penduduknya belum tersentuh dengan dakwah Islam akan takjub dan tertarik untuk masuk Islam.

Jadi, jangan dibayangkan penerapan hukum Islam itu, gabungan dari kedua kondisi. Yakni kondisi kehidupan umat Islam saat ini yang terpaksa hidup dalam cengkeraman Ideologi Kapitalisme, dengan hukum pidana yang diambil dari Islam. Tidak! Gaya hidupnya sudah berbeda. Semua aturan diatur dengan Islam.

Untuk Mazhab dalam beribadah, dikembalikan ke pribadi masing-masing. Maksudnya, Negara tidak menetapkan madzhab dalam hal ibadah mahdhah. Kita boleh menggunakan fikih sholat dari Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imama Maliki, Imam Hambali dan Ulama lainnya yang pemahamannya tidak keluar dari Islam.

Kesimpulan saya, jika ada orang Islam yang takut dengan pemerintahan Islam. Mungkin mereka belum mengetahui pemerintahan Islam yang sebenarnya. Disitulah pentingnya mengkaji Islam sebagai ideologi. Agar isi kepala kita, tidak dijajah dengan pemikiran barat yang menyesatkan itu. Sementara di sisi lain, Islam memiliki aturan yang sempurna, yang akan membungkan mulut-mulut para pembenci Islam saat Khilafah yang mengikuti metode kenabian tegak kembali. Wallahu a’lam bishawab

Advertisements