Tags

, , , , , ,

Dalam mensukseskan sebuah opini, sangat dibutuhkan peran serta media masa. Dewasa ini, kebutuhan akan informasi menajadi sesuatu hal yang tidak bisa tidak kita lewatkan, agar kita tidak ketinggalan jaman. Dilemanya, jika kita terlalu sering mengikuti perkembangan berita di media,  kita menjadi terombang ambing dengan opini yang sedang berkembang. Sebagai bagian dari masyarakat, sadar atau tidak, kita sedang digiring masuk ke dalam sebuah opini tertentu.

Hal ini tidak hanya terjadi dalam ranah politik. Dalam dunia marketing pun, media sangat ampuh mebuat masyarakat tertarik untuk membeli poroduk yang diiklankan. Masih terngiang di pikiran kita sampai saat ini, sebuah slogan yang berbunyi, “Apapun makanannya, minumnya…?” Meskipun slogan minuman dalam botol tersebut sudah lama tidak muncul di layar TV, tapi pengaruhnya sampai sekarang masih membekas di benak kita. Maka tidak heran, meskipun harga iklan di TV sangat mahal, tapi tetap tidak menyurutkan produsen-produsen besar untuk mengiklankan produknya di TV. Karena hasilnya sebanding dengan uang yang telah dikeluarkan oleh produsen tersebut.

Di kancah perpolitikan dunia, media sangat besar peranannya dalam membangun opini umum di tengah-tengah masyarakat. Media mampu membuat Si Jahat menjadi Si Baik dan membuat Si Baik menjadi Si Jahat. Maksudnya, dapat membuat yang benar terlihat salah, dan yang salah terlihat benar.

Media saat ini menjadi kepanjangtanganan penguasa untuk melanggengkan kekuasaan, untuk menyebarkan Ideologi Kapitalisme/Sekulerisme. Media yang katanya adil dalam memberitakan sebuah berita, ternyata tidak sepenuhnya fair, terutama pada Umat Islam.

meme charlie hebdo

Behind The Scene

Media secara masif memberitakan penembakan yang terjadi di kantor redaksi majalah satire Charlie Hebdo yang menewaskan sedikitnya 12 orang. Mereka sebut ini sebagai serangan barbar, namun apakah serangan di Gaza oleh Israel, mereka sebut demikian? Amerika menyerang Afganistan dan Irak, setelah diduga Al Qaeda menyerang WTC. Andai yang menyerang benar Al Qaeda, jumlah korban tewas tidak lebih dari 4000 orang, tapi lihat Amerika menyerang Irak, sebanyak 1,5 juta lebih rakyat di sana tewas. Apakah ini tidak disebut serangan barbar?

Senjata pemusnah massal yang dulu dijadikan alasan, AS menyerang Irak, ternyata tidak ada. George W Bush telah mengaku keliru. Apa hukuman untuk Presiden yang memerintahkan pasukan menghancurkan sebuah negara? Tidak ada. Bush bebas menikmati masa pensiunnya. Jadi siapa yang sebenarnya teroris?

Dalam hal ini media berperan besar dalam membangun opini umum, “siapa teroris, siapa pahlawan,” terutama media-media mainstream sekuler.

Advertisements