Tags

, , , , ,

Khalifah Abdul Hamid II

Khalifah Abdul Hamid II

Via: id.wikipedia.org

Salah satu bukti cinta adalah dengan melindungi orang yang kita cintai. Cinta kita kepada Rasulullah SAW dapat ditunjukan dengan sikap marah, benci dan tidak terima ketika Rasulullah SAW direndahkan. Maka aneh jika sebagai seorang Muslim, kita tidak marah ketika Rasulullah SAW direndahkan. Padahal ketika keluarga atau kerabat kita di direndahkan, kita akan marah. Kita akan membela semampu kita, agar orang tersebut tidak lagi berbuat hal serupa.

Menjadi aneh juga, ketika pada tanggal 3 Juli 2014 lalu, The Jakarta Post memuat karikatur yang menghina umat Islam, tapi sebagai Muslim kita tidak marah. Malah saya pernah membaca komentar dari beberapa pengguna media sosial, menanggapi hal ini denga sikap biasa-biasa saja. Kebanyakan dari kita masih saja ada yang salah  mensikapi hal ini dengan sikap sabar. Dengan dalih, bahwa pada masa Rasulullah SAW di Makkah, Beliau tidak marah ketika ada orang yang merendahkanya. Padahal sikap marah kita adalah sebagai bukti kecintaan kita pada Beliau. Terlebih lagi marah karena Allah swt.  merupakan bukti kesempurnaan dari Iman. Sebagaimana sabda Nabi SAW,

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dari Abu Umamah dg sanad sahih)

Penghinaan terhadap Nabi SAW tidak hanya pernah terjadi pada masa sekarang ini. Pada masa Khilafah Utsmaniyah, pernah akan ada pementasan teater yang menghina Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Perancis pernah merancang mengadakan pementasan drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah SAW. Drama itu bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan” dan disamping mencaci Rasulullah SAW, ia juga menghina Zaid dan Zainab. Seketika itu juga, setelah Sultan Abdul Hamid II -pemimpin pada saat itu- mengetahui kabar akan ada pementasan drama tersebut, beliau langsung memerintahkan duta besarnya yang ada di Perancis untuk memberhentikan pementasan drama tersebut. Tidak hanya itu, Sultan Abdul Hamid II juga mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Perancis jika masih meneruskan pementasa itu.

Pememntasan tersebut serta merta dibatalkan. Tidak berhenti sampai disitu, kumpulan teater tersebut pindak ke Inggris untuk melakukan pertunjukan yang sempat batal. Namun lagi-lagi, Sultan Abdul Hamid II tidak setuju dengan pementasa itu. Beliau memerintahkan Inggris untuk menghentikan acara tersebut, namun pemerintah Inggris menolak dengan alasan tiket sudah dijual dan sekiranya dibatalkan, hal itu melanggar prinsip kebebasan rakyatnya. Perwakilan Utsmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walau pun Perancis mengamalkan ‘kebebasan’ tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Perancis.

Setelah mendengar jawaban itu, Sultan Abdul Hamid II kembali memberikan perintah:

“Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).”

Britania dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan.

Inilah bukti kehebatan Islam, ketika diterapkan oleh Negara. Tak heran jika Imam Al Ghazali dalam Al Iqtishad fil I’tiqad menuliskan:

Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar… agama adalah asasnya dan kekuasaan adalah penjaganya, apa saja yang tidak memiliki asas maka akan hilang dan apa saja yang tidak memiliki penjaga maka akan hancur.

Sumber: Islampos.com, voa-islam.com

Advertisements