Tags

, , , , ,

Jika sekarang ini kita ditanya, manakah negara adidaya yang anda ketahui? Saya yakin pasti semua serentak menjawab, “Amerika Serikat!” Tapi tahukah siapa negara adidaya sebelum Amerika, yang mempunyai kekuatan lebih di percaturan politik Internasional? Menurut Wikipedia, negara adidaya sebelum Perang Dunia II ada Uni Soviet, Britania Raya, dan juga Amerika Serikat itu sendiri.

Namun ada satu lagi negara adidaya yang keberadaanya sering ditutup-tutupi bahkan dikerdilan kehebatannya dalam sejarah. Negara adidaya tersebut bernama Khilafah. Hampir 1400 tahun pemerintahan ini berdiri, sampai pada tanggal 3 Maret 1924 M Kekhilafahan resmi dihapuskan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Meskipun Khilafah pada masa itu masih terdapat kekurangan dan kelemahan di sana sini, namun hal ini bukanlah kesalahan fatal, dan pada masa itu Umat Islam terjamin keamanan dan kesejahteraanya. Tidak seperti sekarang ini setelah Khilafah runtuh, Umat Islam jumlahnya banyak, namun mereka bagaikan buih di tengah lautan. Terombang-ambing.

Salah satu bukti bahwa Kekhilafahan merupakan negara adidaya, kita bisa mengetahuinya dari tulisan Sharique Naeem, beliau adalah seorang insinyur, komentator politik dan penulis. Tulisan-tulisannya diterbitkan di surat kabar-surat kabar nasional Pakistan, Bangladesh, India, Yaman dan Iran. Berikut ini saya tulis ulang  beberapa tulisan dari Sharique Naeem, yang terkait dengan topik yang sedang saya bahas.

Peta Khilafah Utsmaniyah

Ketika  armada laut Amerika mulai berlayar di perairan internasional. Pada tahun 1783,  dalam waktu 2 tahun, kapal-kapal tersebut ditangkap oleh kapal laut Kekhilafah Turki Usmani, karena melewati wilayah laut Khilafah, di dekat Aljazair.

Penangkapan kapal-kapal itu, memaksa Amerika merasa perlu melakukan hubungan antar negara dengan negara Khilafah. Pada tahun 1786, Thomas Jefferson yang kemudian menjadi duta besar Amerika untuk Perancis dan John Adams yang kemudian menjadi duta besar Amerika untuk Inggris bertemu di London dengan Sidi Haji Abdul Rahman  Adja duta besar Negara Khilahah untuk Inggris. Pertemuan ini dalam rangka menegosiasikan sebuah perjanjian perdamaian antar kedua belah pihak Amerika dan Khilafah, yang akan didasarkan pada pendanaan dari pemungutan suara di kongres.

Menariknya setelah pertemuan itu, 2 wakil dari Amerika  yang nantinya menjadi Presiden Amerika,  melaporkan pada kongres AS, alasan negara Khilafah memusuhi Amerika, denga kata-kata berikut ini. “…bahwa (Kekhalifahan) didirikan berdasarkan Hukum Nabi mereka, bahwa hal itu ditulis dalam al-Quran mereka; bahwa semua negara yang tidak mengakui otoritas mereka adalah negara yang berdosa; bahwa hak dan kewajiban mereka untuk berperang terhadap negara-negara itu di mana saja mereka bisa ditemukan…; dan bahwa setiap Musselman (Muslim) yang terbunuh dalam peperangan pasti akan masuk surga.”

Pada tahun 1793, kapal laut Amerika kembali lagi memasuki wilayah laut Khilafah, dan kali ini 12 kapal ditangkap. Menanggapi hal ini, kongres Amerika memberikan mandat pada Presiden Washington, pada bulan Maret 1794, untuk membelanjakan hingga 700.000 koin emas untuk membangun angkatan laut yang lebih kuat yang terbuat dari baja. Namun kapal-kapal tersebut hilang lagi dalam konfrontasi dengan Angkatan Laut Khilafah.

Sejak saat itu, Amerika menyadari sedang berhadapan dengan negara adidaya: Khilafah. Setahun setelah kejadian itu, Amerika menandatangani perjanjian Barbary dengan Negara Khilafah. Kata Barbary merujuk pada governorat Afrika Utara untuk wilayah Aljazair, Tunisia dan Tripoli, yang berada di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah.

Ketentuan dalam perjanjian Barbary memaksa Amerika  untuk membayar sejumlah besar uang kepada Khilafah sebagai imbalan izin untuk berlayar di Samudera Atlantik dan Laut Mediterania serta mengembalikan kapal-kapal yang ditangkap, mulai dengan pembayaran dengan metode one off payment yang bernilai $ 992.463. Sebagai imbalannya, Pemerintah Amerika harus membayar lagi $ 642.000 yang setara dengan emas. Selain itu, Amerika setuju untuk membayar pajak tahunan (upeti) senilai $ 12 000 dalam bentuk emas.

Menariknya disini, Khilafah lebih lanjut menegaskan supremasi diplomatiknya, dengan mewajibkan Amerika untuk membayar upeti tahunan, menurut kalender Islam dan bukan menurut kalender Kristen. Selanjutnya, sebagai tebusan untuk tentara Amerika yang ditangkap, Amerika harus membayar $ 585.000. Selain dari upeti yang bernilai sangat besar ini, Amerika setuju untuk membangun dan memberikan dengan biaya sendiri armada kapal baja bagi Khilafah. Kerelaan Amerika ini sebenarnya telah ‘menjerumuskan’ Amerika sendiri ke dalam pembayaran kurang lebih tiga puluh kali lipat perkiraan uang yang harus di bayar sebagaimana yang tercantum dalam perjanjian. Pasalnya, biaya kapal-kapal yang terbuat dari baja, biaya untuk tiang-tiangnya dan papan-papan baja yang berat, sangatlah besar biayanya.  Belum lagi di tambah bahan-bahannya sulit untuk didapatkan, dan biaya transportasi pengiriman ke Turki Utsmani yang besar. Perjanjian itu berlaku sampai Khilafah runtuh.

Semoga cuplikan sejarah yang menggambarkan konfrontasi antara Amerika dengan Khilafah di atas bisa menjadi gambaran jelas buat kita, bahwa Khilafah benar-benar negara adidaya pada masanya. Dan kita menjadi tahu, bahwa Khilafah tidak menyeramkan dan barbar seperti yang dipaparkan oleh penulis-penulis barat pada umumnya.

Tulisan lengkap dari Sharique Naeem tentang konfrontasi Amerika dengan Kilafah dapat dibaca disini

Advertisements