Tags

, , , , , , , ,

Pernikahan Islami

Jaman sekarang menjadi aneh bila ada seorang pemuda atau pemudi yang tidak mengikuti kebiasaan yang ada di masyarakat. Seperti contoh, seseorang yang tidak pacaran akan dianggap aneh, karena tidak mengikuti kebiasan yang ada di masyarakat.

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. (HR. Al-Bukhari no. 844 dan Muslim no. 1829)

Dari hadits di atas, saya mulai belajar untuk tidak memperdulikan perkataan orang lain, kecuali hanya mengikuti perkataan Rasulullah SAW dan orang-orang yang senantiasa mengikuti syariahNya. Karena saya menyadari, setiap perbuatan yang saya lakukan di dunia, kelak di akhirat akan dimintai pertanggung jawaban. Dan yang bertanggung jawab adalah diri sendiri bukan orang lain.ย  Jadi, mengapa harus peduli pada orang lain yang tidak tahu-menahu soal akhirat? Jadi mengapa harus mengikuti kebiasaan masyarakatย yang berentangan dengan atura Allah Swt.?

Saya memiliki prinsip, life is choice. Setiap perbuatan yang berujung pada dosa dan pahala, pasti disitu terdapat pilihan. Termasuk pacaran, mau pacaran atau tidak itu pilihan manusia. Dan konsekuensi dari sebuah pilihan, akan dimintai pertanggung jawaban. Dalam Islam, pacaran adalah perbuatan dosa, maka saya memilih untuk tidak pacaran.

Pacaran itu justru akan menjauhkan kita dari jodoh terbaik. Logikanya sederhana, seseorang laki-laki yang mudah berkata cinta pada pacarnya yang notabene belum halal itu, mesti akan mudah juga berucap hal yang sama pada wanita lain. Begitu juga dengan perempuan, jika ia gampang luluh dengan perkataan seorang laki-laki yang suka mengumbar cinta, bisa dipastikan ia juga mudah terjerat dengan rayuan laki-laki lain.

Laki-laki sejati jika cinta pada wanita pujaan hatinya, memilih menikah bukan pacaran. Begitu juga dengan wanita, lebih memilih diberikan kepastian dengan jalan pernikahan, bukan pacaran. Orang pacaran itu tandanya belum siap nikah dan tidak serius. Islam mengajarkan saling mengenal satu sama lain dengan ta’aruf bukan pacaran. Inilah yang dimaksud dengan mencintai karena Allah SWT.

Semoga kita semakin sadar, bahwa kebiasaan di masyarakat belum tentu benara, kita harus mengembalikan benar salah menurut aturan dari Sang Maha Pencipta. Karena Allah SWT, yang menciptakan alam semesta, kehidupan, dan manusia, maka Dialah yang paling tahu tentang diri kita. Wallahu a’lam bishawab.

Kalau sudah siap menikah, mendingan langsung minta Ustadz atau Ustadzahnya untuk mencarikan ikhwan/akhwat yang sesuai dengan kriteria, lanjut ke proses ta’aruf, kalau cocok langsung menikah. ๐Ÿ™‚

Ilustrasi dari sini.

Advertisements