Tags

, , , , , , , ,

Sebagai seorang yang baru beberapa bulan suka menulis di blog, ada satu kebiasaan buruk yang masih sering saya lakukan sampai sekarang. Kebiasaan buruk itu adalah “takut dinilai.” Lantas apa hubungannya takut dinilai dengan manulis blog? Begini ceritanya…

Jadi saya sering menulis langsung artikel yang akan saya publish di WordPress, bukan copy paste dari Microsoft World ataupun dari notepad. Dari beberapa artikel yang saya tulis,  saya sering tidak menyelesaikannya, sehingga sampai sekarang numpuk sebagai draft. Sebenarnya bukan karena idenya yang tidak bagus, tapi lebih karena tidak percaya diri untuk menerbitkannya. Dan setelah saya pikir-pikir ternyata yang menyebabkan tidak menyelesaikan dan  mempublishkannya adalah karena “takut dinilai”

nilai

Di kepala banyak pikiran-pikiran negatif yang muncul, “Nanti kalau tulisannya jelek bagaimana?”  Dan banyak lagi pikiran negatif serupa. Pikiran  tersebut cukup membuat saya mengurungkan niat untuk mempublikasikan beberapa tulisan.

Dari situ, muncul lagi masalah, blog menjadi jarang update. Akibatnya pengunjung akan bosen dengan blog yang isinya itu-itu saja. Pengunjung akan lari ke blog lain yang lebih sering update atau setidaknya updatenya rutin. Dan yang lebih prinsip dari pada itu semua adalah menelantarkan blog adalah “tindakan tercela.” Hehehe… #Lebay. Karena eksistensi dari seorang blogger adalah menulis. Jadi, merasa malu sendiri jika blog jarang diupdate. 😀

Untuk itu mesti harus ada yang namanya solusi agar hal ini tidak terjadi lagi. Alhamdulillah, saya ingat dengan tulisan dari Pak Moh. Fauzil Adhim dalam sebuah slideshow, yang diberi judul “Inspiring Words for Writers.” Salah satu isinya, beliau menuliskan,

“Tidak ada penghambat yang lebih besar kecuali ketakutan dinilai. Tidak ada pengendali yang lebih baik kecuali ketakutan menebar kebatilan.”

Dari situ, saya pikir-pikir lagi, sebenarnya dinilai baik ataupun buruk itu tidak menjadi masalah,  justru  yang menjadi masalah adalah jika yang kita tulis adalah sebuah kebatilan. Maka saya akan menghindari menulis sebuah kebatilan, karena setiap perbuatan atau aktifitas yang kita lakukan pasti akan meninggalkan jejak, jika jejaknya baik dan diikuti oleh orang lain kita akan mendapatkan pahala. Namun jika jejak yang kita buat adalah sebuah keburukan, dan ada orang yang mengikuti jejak kita, otomatis kita akan memperoleh investasi dosa dari keburukan yang telah kita tinggalkan. Naudubillah himindalik…  Jadi kesimpulannya, woles ajalah, yang penting tidak menebarkan kebatilan.

Sumber gambar dari sini.

Advertisements