Kebahagiaan Hakiki itu Taat pada Aturan Allah

Syabab RusiaVia: Fanpage Halaqoh Online

Foto ini saya ambil dari Fanpage Halaqoh Online, saya juga menyertakan diskrpisinya. Berikut diskripsi yang disertakan bersamaan dengan foto tersebut.

“Shabab v rossii
Da Pamozet vam wsyem Allah.
Privyet iz indonyezii”

“Russia: A Shabab of Hizbut Tahrir meets his little baby from behind bars on the court day. Do you think this is going to STOP them worshiping Allah (swt) and calling for the dominance of his deen? NO WAY!!!”

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 214)

Ketika pertama kali melihat  foto di atas, yang terbayang dalam benak saya adalah kebahagiaan seorang Ayah saat bertemu dengan Istri dan anaknya. Keduanya, sepasang Suami Istri tersebut begitu bahagia dengan pertemuannya di sebuah penjara. Uniknya, bukan kesedihan yang tampak pada raut wajah mereka, tidak seperti para koruptor, ketika keluarga menjenguknya di penjara, pasti rasa malu dan kesedihan yang ada. Suami Istri ini justru bahagia dengan pertemuan itu.  Munkin karena mereka meyakini bahwa perjuangannya dalam menyerukan penerapan kembali Syariah dan  Khilafah tidak akan sia-sia dimata Allah.

Mereka di penjara bukan karena mencuri, atau membunuh, apalagi korupsi. Mereka ditangkap karena menyuarakan ide Khilafah, di negaranya, Rusia. Karena Rusia merupakan Negara yang tidak suka dengan kebangkitan Islam, termasuk Amerika. Pasti setiap usaha untuk membangkitkan Islam akan mereka gagalkan.

Jika saya boleh menerka-nerka apa yang ada dalam pikiran para pengemban dakwah yang dipenjara tersebut adalah mereka tidak rela jika hidup yang sebentar ini hanya dihabiskan untuk mengejar dunia yang fana. Sementara kehidupan yang abadi telah menanti mereka. Makanya mereka ikut berjuang menyerukan tegaknya kembali Syariah dalam bingkai Khilafah. Mereka tidak takut memperjuangkan ide Khilafah warisan dari Nabi Muhammad SAW, meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Salah satu sebab fardlu khifayahnya menegakan kembali Kekhilafahan ini  atas dasar Ijma Sahabat. Ketika Rosulullah SAW wafat, jasad beliau belum dikuburkan, selama hampir 3 hari. Padahal kita tahu fardlu khifayahnya merawat jenazah, apalagi jenazah manusia paling mulia sepanjang zaman. Para Sahabat disibukan dengan memilih pemimpin pengganti kepemimpinan beliau, Rosulullah SAW,  sebagai kepal Negara (yang akan menerapkan ajaran Islam secara kaffah,) bukan sebagai Nabi ataupun Rosul. Betapa pentingnya kepemimpinan tersebut, jika tidak penting, mustahil para Sahabat yang sangat mencintai Allah dan RosulNya tersebut membiarkan jasad Rosulullah SAW sampai lebih dari 2 hari 3 malam.

Selain itu, hadits ini akan semakin meyakinkan kita bahwa Kekhilafahan akan tegak kembali.

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. [HR Ahmad dan al-Bazar]

Betapa bahagiannya jika hidup ini kita manfaatkan untuk meng hamba kepada Sang Pencipta. Saya teringat dengan perkataan guru ngaji saya, kurang lebih seperti ini, “Tidak ada masalah yang terasa berat jika kita mengatahui tujuan manusia diciptakan di dunia ini.”

Advertisements

16 thoughts on “Kebahagiaan Hakiki itu Taat pada Aturan Allah

  1. bebrapa kali maen kesini, baru sekarang nyempetin ninggalin jejak di kebahagiaan hakiki, sungguh bikin saya merinding dan terbersit dalam benak untuk kemudian menjadi manusia yang lebih baik

  2. Sekali mengejar dunia, yg didapatkan hanya rasa tidak puas dan kekecewaan. Tapi kalau visinya jangka panjang untuk meraih akhirat, pasti bakal lain ceritanya. Bakalan happily ever after kelak.

    1. Benar Mas Arip, menurut buku “ON” yg pernah saya baca. Kita harus memiliki visi dunia dan visi akhirat. Semestinya visi dunia harus ada korelasinya juga dengan visi akhirat. 🙂

      Semoga kita semua kembali padaNya dalam keadaan baik. Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s