Di Bangku Taman

Tags

, , , , , ,

Buku di bangku taman. 🙂

Tak ada sepatah katapun terucap dari bibirku juga bibirnya. Dalam kesepakatan yang tidak diutarakan itu, kami sepakat untuk tidak saling menyapa. Pandanganku lurus ke depan, sementara dia asyik membaca buku. Selain kami, ada bangku taman yang sedari tadi diam meski kami duduki bermenit-menit.

Pagi itu, angin berhembus pelan membawa kesejukan ketika mentari sedang terik. Pucuk-pucuk cemara di area taman itu berdesir ditiup angin. Kusandarkan tubuh ramping ini di bangku taman. Kupandangi sekeliling, menikmati gemerisik daun yang saling bersentuhan juga mendengar kicauan burung-burung liar yang hinggap di ranting pohon. Continue reading

Impian-Impian yang Diusahakan

Tags

, , , ,

Dengan mengetahui hakikat kehidupan, kita menjadi mengerti jalan mana yang mesti kita tempuh. Disamping itu, manusia terlahir dengan potensi kehidupan berupa naluri-nalurinya. Manusia juga memiliki kecenderungan tertarik terhadap berbagai hal.

Nah untuk memahami hakikat hidup itu, dapat kita ketahui dengan mempelajari Islam. Kita akan menjadi diri kita yang sesungguhnya jika diri kita memahami ajaran Islam. Kemudian dari situ kita memadukan impian-impian dalam hidup dengan ajaran Islam sebagai pedomannya. Sehingga terlahir sebuah impian yang akan kita wujudkan di dunai ini dalam rangka mencari bekal menuju kehidupan selanjutnya. Dan impian-impian itulah yang akan menambah daya hidup kita.

lunar-albiruni

Sebuah ilustrasi pergerakan fase bulan dari buku karya Abu Rayhan al-Biruni, via: Islam For World

Tulisan di atas tercipta setelah membaca Novel The Alchemistnya Paulo Coelho. Jadi sedikit banyak terpengaruh dengan konsep mewujudkan impian-impian yang sering dijelaskan Coelho dalam setiap pelajaran berharga di dalam petualangan Santiago (tokoh utama The Alchemist) mewujudkan impiannya mencari harta karun di Piramida-Piramida Mesir.

Continue reading

Ceritanya Mau Rutin Nulis di Blog

Tags

, , , , , ,

Ah, sudah cukup lama aku tidak nulis di blog ini. Belakangan ini, lebih aktif di Instagram. Sosial media yang satu itu, memang sedang menyita banyak waktuku. Entah mengapa semenjak mengikuti 30 hari bercerita bulan lalu, rasanya masih cukup sulit menghilangkan kebiasaan menulis di Instagram. Dan tidak tahu kenapa, menulis di sana rasanya lebih mudah daripada menulis di blog. Mungkin karena sudah merasa dibebani dengan anggapan bahwa menulis di blog itu harus panjang dan berbotot.

lawfit-blog-writer

Ilustrasi via: Typewriter

Ketika menulis di blog, aku ingin setiap tulisanku yang telah dipublish itu harus sempurna. Padahal jika dirunut, tujuan awal menulis di blog itu untuk berlatih menulis dan menyampaikan apa yang telah aku pelajari, bukan untuk menjadi perfeksionis. Sedangkan akhir-akhir ini, karena berharap untuk menghasilkan tulisan yang bagus, yang tejadi justru jarang sekali bisa rutin posting. Adalah takut jelek, merupakan hambatan yang paling nyata adanya. Continue reading

Agar Menulis Semakin Lancar

Tags

, , , , , , ,

Inti dari menulis itu yang penting kamu paham. Kalau tidak paham lantas apa yang akan kamu tulis? Jika penulis itu paham dengan apa yang ditulisnya, besar kemungkinan akan menghasilkan tulisan yang bagus. Di sini yang saya maksud bagus adalah kalau itu sebuah pemahaman Islam, maka akan mencerahkan; kalau itu sebuah novel, maka pesan tersirat ataupun tersurat akan sampai ke pembaca; jika itu berita, maka akan mampu menjelaskan pada masyarakat peristiwa yang terjadi.

mesin ketik

Mesin ketik, via: Yeah Write

Kadangkala, penulis pemula seperti saya, terkendala dengan isi tulisan yang terasa dangkal. Apa sebab? Saya pribadi, biasanya kurang membaca banyak referensi. Kadang hanya mencari beberapa bacaan, kemudian langsung ditulis. Kalau saja saya mencari lebih banyak bahan dari berbagai sumber, kemungkinan tulisan saya akan semakin baik. Karena saya paham dengan apa yang saya sampaikan. Continue reading

Sebaik-baik Teman Duduk

Tags

, , , , ,

Sebaik-baik teman duduk adalah buku. Merupakan sub judul dalam buku La-Tahzan yang fenomenal itu. Buku memang baik sekali. Setiap kali aku duduk bersama, tak satupun kesalahan dilakukannya. Ia tidak pernah mengganggu ketenanganku. Ia diam namun sebenarnya tidak. Ia berbagi sesuatu padaku. Namun, aku justru mengusamkannya.

Baca buku di alam terbuka. via:

Baca buku di alam terbuka, via: books are friends

Membaca menjadi jembatan perkenalan dengan buku. Setiap kalimat semakin mempererat kita. Aku dan buku mungkin belum terlalu akrab. Tapi, hampir setiap hari aku selalu ada bersamanya. Menemaniku duduk, meski hanya beberapa menit. Dan alangkah senangnya berdua-duaan dengannya. Disamping tidak dosa, tambah ilmu lagi. Continue reading